Lolo, Kampung Tua yang Ditinggal Penghuninya Syafe'i Buka Jalan Swadaya, Bebaskan Warga dari Isolasi

Syafe'i. kiri (foto Sardi Nefri)


Minang-terikini--Kampung Lolo merupakan sebuah jorong yang berada di Nagari Kototuo,
Kecamatan Kapur IX, Limapuluh Kota, Sumbar. Warga dikampung tua itu,
harus berjalan kaki puluhan kilometer jika hendak membeli kebutuhannya
di pasar Muaropaiti, Lubuakalai atau Duriantinggi Kecamatan Kapur IX.
Beruntung beberapa bulan belakangan seorang pengusaha membuka akses
jalan ke kampung tua yang subur itu.

Terdiri dari beberapa orang dewasa dan anak-anak, berjalan menempuh
jarak yang cukup jauh dari Lolo menuju pasar-pasar nagari terdekat di
Kecamatan Kapur IX. Begitulah derita isolasi yang dialami sekitar 300
kepala keluarga yang tinggal di kampung Lolo. Daerah itu merupakan
nagari tertua di Kecamatan Kapur IX yang kini  menjadi jorong Lolo
bagian Nagari Kotolamo.

"Kita sangat prihatin dengan kondisi isolasi yang  dirasakan warga
Lolo sejak lama, hingga  perkampungan tua itu sejak 23 tahun  terakhir
berangsur-angsur ditinggalkan penduduknya. Hal itulah yang menjadi
pendorong bagi kita untuk membuka akses jalan,"ucap salah seorang
pengusaha asal Nagari Duriantinggi, Syafei saat dihubungi Padang
Ekspres via telepon genggamnya, Kamis(10/11) sore pekan lalu.

Perantau sukses di Provinsi Jambi itu, ingin kembali akses jalan
menuju Lolo yang menjadi titik awal masyarakat Kecamatan Kapur IX
tersebut, kembali ditempati. Sebab pemukiman dan masjid serta bangunan
yang ada di belantara Kapur  IX itu, kini  sudahmulai melapuk akibat
ditinggal penghuninya yang tak sanggup lagi tinggal didaerah yang
terisolasi, akibat belum terjangkau akses transportasi, komunikasi dan
penerangan listrik.

"Warga Lolo saat ini banyak yang menumpang tinggal di nagari-nagari
yang ada di Kapur IX, seperti di Lubuakalai,  Muaropaiti dan
Duriantinggi. Padahal tanah Lolo sangat subur dan luas sebagai lahan
pertanian dan perkebunan,"Sebut Sardi salah seorang tokoh masyarakat
di Kecapamatan Kapur IX, Kamis.

Beruntung salah seorang anak nagari, Syafe'i yang sudah 34 tahun
merantau dan cukup sukses mau mengulurkan tangan dan tergerak untuk
membantu warga Lolo yang sudah jenuh dengan keterisolasiannya.
Sulitnya akses jalan dan tak kunjung mendapatkan perhatian, warga
akhirnya perlahan  meninggalkan perkampungan itu dan memilih tempat
tinggal dinagari-nagari yang lebih dekat dengan akses transportasi.

Perantau yang bergerak pada usaha pertambangan dan  kelapa sawit di
Provinsi Jambi itu, membuka jalan selebar 12 meter ditengah belantara
untuk mencapai Jorong Lolo dengan panjang pembukaan jalan hingga 10
kilometer. Tentunya tidak sedikit biaya yang digelontorkan  untuk
membuka jalan tersebut, namun Syafe'i mengaku  ikhlas membantu warga
Lolo agar bisa kembali menempati kampung tertua di kecamatan kapur IX
itu.

"Satu kilometer jalan dengan lebar jalan 12 meter sedikitnya
membutuhkan biaya sekitarRp 1,4 miliar. Namun kita tidak melihat itu,
sebab saya ingin mengabdi untuk kampung halaman,"tambah Syafe'i yang
juga mulai mendirikan sebuah Koperasi Unit Desa (KUD) Bukikpotai untuk
mengakomodir perekenomian masyarakatnya ketika menjawab Padang
Ekspres.

Rasa haru dan terimakasih yang disampaikan  masyarakat membuat Syafe'i
bersemangat untuk terus berkotribusi. Karena menurutnya belum seberapa
pengabdiannya untuk kampung halaman setelah 34 tahun hidup
diperantauan. Setidaknya, kata pria berusia sekitar 49 tahun ini,
pembukaan jalan yang bisa dilakukannya, menjadi pendorong agar
pemerintah lebih memperhatikan pemukiman asal warga Kapur IX ini.

"Mudah-mudahan harapan besar kita kepada pemerintah untuk melanjutkan
pengaspalan jadi kenyataan dan perhatian  serius Pemkab Limapuluh
Kota. Akses Lolo sangat dekat dengan Muaro  Paiti, Sialang,
Duriangadang dan Nagari Maek, Kecamatan  Bukikbarisan. Nagari tua ini
persis  berada ditengah,"sebutnya.

Sedikit bercerita soal asal muasal Kapur IX, Syafei menyebut Lolo
sebagai kampung yang menjadi asal Datuak Pucuak Bandaro Sati, seorang
datuk gelar tertua Kecamatan Kapur IX."Jika kita biarkan, nagari yang
menjadi kampung tua Kapur IX ini nantinya hanya kan tinggal sejarah.
Padahal sangat besar potensi yang bisa  kita olah untuk  kesejahteraan
masyarakat disana,"sebut Syafe'i yang terdengar mulai sulit merubah
dialeg Jambi saat bertutur.

Wali Nagari Kotolamo, Anwar Datuak Bosa, sangat bersyukur dengan
partisipasi salah seorang pengusaha untuk membangun kampung halaman
dan membuka isolasi Jorong Lolo. Warga Lolo juga sangat senang dan
terharu,"Kita sangat bersyukur, mudah-mudahan niat tulus pengusaha ini
bisa menjadi motivasi pemerintah untuk memperhatikan infrastruktur ke
Lolo. Begitu juga dengan anak nagari lainnya yang ingin  mengabdi
untuk pembangunan kampung,"harap Anwar.

Apresisasi dan dukungan untuk membangun kembali Lolo sebagai nagari
tua Kapur IX itu disampaikan juga oleh Wali Nagari Duriantinggi, Ardi
Ekis. Menurut wali nagari yang mantan anggota DPRD Limapuluh Kota dua
periode sejak tahun 1999 hingga 2009 itu, kehadiran perantau untuk
mengabdikan dirinya membangun akses jalan dari Duriantinggi menuju
Lolo disambut antusias masyarakat.

"Niat untuk membangun kembali kampung tertua di kapur IX itu, menjadi
cita-cita kita bersama agar nanti daerah yang ditinggalkan warganya
sekitar 300 kepala keluarga itu bisa kembali  dibangun. Tanahnya yang
subur agar bisa kembali digarap dan dibangunkan  pemukimannya. Hal ini
sudahmenjadi perhatian  oleh Bupati dan Wakil  Bupati Limapuluh Kota.
Mudah-mudahan bisa didengar hingga Kementerian Desa dan Transmigrasi
RI  nantinya,"harap Ardi Ekis, kemarin.

Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan melihat upaya yang
dilakukan warga untuk sama-sama mebangun daerah patut diapresiasi dan
menjadi motivasi gerakan "sato sakaki mambangun nagari".

"Seperti halnya, Lolo, di sejumlah kecamatan  di limapuluh  Kota juga
ada kampung-kampung asal yang perlu kitaperhatikan. Kita hidupkan
kembali perkampungan-perkampungan tua, perluasan pemukiman,
pembangunan ekonomi dan sosial budaya itulah bagian momentum babalaiak
ke nagari,"sebut Ferizal Ridwan.(*arf)

Posting Komentar

0 Komentar